A.
Pengantar
Kajian tentang
dinamika pergerakan mahasiswa merupakan suatu kajian yang tidak akan terputus,
ini sangat menarik. Mengapa demikian,
pertanyaan sebagian diantara kita.
Sungguh suatu kenyataan baik dari perspektif sejarah maupun dalam
konteks realita bahwa dinamika
pergerakan mahasiswa telah memberikan fenomena yang yang berlangsung
terus-menerus seolah tidak berujung. Ada
saja yang ditunjukkan oleh pergerakan mahasiswa, yang tidak urung mengundang
berbagai reaksi dan gejolak baik yang positif, maupun negatif. Semuanya itu
telah mengundang berbagai kontroversi yang seolah juga tidak berujung.
Mahasiswa tetap berjuang dengan berbagai atribut yang diembannya dan birokrat
atau pihak-pihak yang berkepentingan tetap bertahan dengan berbagai
keyakinannya. Hal inilah yang kadang tidak membawa penyelesaian yang produktif.
Pertanyaan mendasar yang patut kita lontarkan adalah “Mengapa mahasiswa
bergerak? Apa sebabnya mahasiswa bergerak? Kok mau-maunya hal itu dilakukan. Serangkaian pertanyaan ini bukanlah sekedar
pertanyaan klise, akan tetapi dibalik itu semua terkandung suatu makna yang
sangat mendalam. Apa dan bagaimana jawabannya saya serahkan semuanya kepada
anda, Mahasiswa, kaum intelek, kaum perubah, dan kaum yang senantiasa dinamis.
B.
Bagaimana kita memandang pergerakan
Kesalahan cara memandang gerakan, yakni memandang
gerakan hanya dari satu
seginya saja, yakni segi
yang negatif, bisa mengakibatkan hilangnya arah positif gerakan. Dan bila ini
dibiarkan, akan mengakibatkan
hancurnya semangat berjuang. Singkatnya:
mengakibatkan hancurnya pergerakan itu
sendiri. Adalah sungguh salah
bila memandang gerakan dari
satu seginya saja, apalagi
bila bukan merupakan hasil
dari kesimpulan dialektika sejarah. Harus
dicamkan dalam-dalam, bahwa kenyataan/realitas apapun memiliki dua sisi, sisi yang negatif dan sisi
yang positif; di
dunia ini, tidak ada satu hal ihwal
pun yang bersegi satu,
yakni hanya segi negatifnya saja. Dan gerak (motion) maju sejarah
merupakan hasil pergulatan (contradictions) segi
yang positif dengan segi yang negatif. Akhirnya, dalam pergerakan yang
memilki semangat yang
tinggi --militansi yang tinggi--
segi positif sekecil apa pun (apalagi bila besar) harus
diusahakan agar dikondisikan,
dikonsolidasikan dan dimanfaatkan untuk
mendorong maju pergerakan, merevolusionerkan pergerakan.
a. Kesalahan cara
memandang ini disebabkan karena lemahnya alat analisa kaum pergerakan:
1. tidak
dapat membedakan segi-segi yang positif dengan segi-segi yang negatif di dalam
sejarah pergerakan;
2. tidak
mau mengakui bahwa tahap-tahap sejarah pergerakan merupakan
gerak yang dihasilkan oleh pergulatan
segi-segi yang positif dengan
segi-segi yang negatif;
3. terjerumus pada jebakan suatu gejala sesaat
(snapshot), yang hanya dipandang segi
negatifnya saja, tidak bisa dipandang segi positifnya;
4. idealis-romantis-penyedih
dalam memandang polarisasi, seolah-olah
polarisasi dianggap sesuatu yang negatif, sesuatu yang tidak boleh terjadi. Padahal, harus
diakui, bahwa polarisasi merupakan
konsekwensi ideologi, garis politik dan keorganisasian pergerakan. Polarisasi
jelas menghasilkan unsur positif (unsur maju) dan unsur negatif (unsur konservatif
dan reaksioner), itu pasti. Jadi, menangisi polarisasi, menangisi perpisahan,
sama halnya dengan menangisi perginya unsur konservatif dan reaksioner. Atau
mungkin takut, rendah diri, akan reaksi unsur konservatif dan reaksioner.
5. tidak
dapat memanfaatkan --terutama konsolidasi-- unsur positif yang dihasilkan oleh
sejarah pergerakan (salah satunya, yang dihasilkan oleh polarisasi) untuk
mendorong maju gerakan mati kutu.
b.
Garis Besar Sejarah Pergerakan
Progeresif-Kerakyatan radikal Dekade 80-an
Setelah sadar, bahwa
'pergerakan" partai politik, "oposisi" sosdem (baik yang moderat
maupun yang radikal), pergerakan mahasiswa dekade 70-an hingga awal 80-an,
pergerakan kelompok studi, tidak berdaya dalam berhadapan dengan rejim orde
baru, maka pergerakan mahasiswa-pemuda-rakyat yang radikal pada dekade 80-an
(tepatnya setelah 1985) telah berupaya dan berhasil membuka ruang demokrasi
--walau masih terbatas-- yang kemudian memberikan peluang bagi pergerakan Progresif- Kerakyatan-Radikal, dan juga bagi
oposisi lainnya sekalipun, untuk tetap maju.
Setelah melewati tahun 1985,
kebekuan merespon masyarakat terhadap kondisi ekonomi-politik budaya yang
sangat negatif, berhasil dibuka, dikuakkan, oleh pergerakan
mahasiswa-pemuda-rakyat yang radikal, yang mahasiswa-pemudanya kebanyakan
berasal dari latar belakang sosial kelas menengah ke bawah. Pemanfaatan
celah-celah kesempatan --yang merupakan segi yang positif bagi pergerakan, dan
segi yang negatif (bumerang) bagi rejim orde baru --seperti kegiatan persdan tersebarnya media
kampus, selebaran-selebaran gelap (terutama yang progresip kerakyatan), adanya
unsur-unsur mahasiswa-pemuda yang berkonsolidasi kedaerah-daerah lain, kegiatan diskusi, aksi-aksi massa yang
bertahap-tahap (dari yang rendah resikonya ke yang tinggi resikonya), dan lain
sebagainya, benar-benar telah memberikan pengalaman yang sangat berharga, baik
dari segi pematangan pemahaman, penyatuan alam pikir dan aksi, pemihakan
terhadap rakyat, maupun rekonsolidasi bagi proses, gerak, selanjutnya
pergerakan kaum Progresif-Kerakyatan-Radikal.
c. Segi-segi Positif yang dihasilkan oleh Pergerakan
Progresif-kerakyatan Radikal Dekade 80an
Seperti Sebagaimana yang telah
disebutkan diatas, pergerakan
Progresif Kerakyatan Radikal
dekade 80-an telah berhasil membuka ruang
demokrasi -walaupun masih terbatas- yang
dapat dijadikan sebagai senjata (peluang) bagi proses, gerak,
selanjutnya ke arah pergerakan revolusioner.
Ruang demokrasi yang telah dihasilkan oleh pergerakan
Progresif-Kerakyatan-Radikal tersebut adalah:
1. Sentimen kerakyatan kini telah lebih populer, atau
bermakna kembali di tengah-tengah
massa.
Kini lebih banyak
orang dengan lebih mudah dan mencoba lebih mendalam berbicara soal rakyat-- bahkan rejim Orde Baru pun kini
lebih giat berdemagogi kerakyatan. Kata rakyat dan atmosfir kerakyatan
mulai beraroma lagi;
2. Baik langsung
maupun tidak langsung, tingkat
agitasi dan propaganda mulai melebar ke segala sektor masyarakat.
Yang terpenting, rakyat kini mulai lebih sadar
akan bobroknya rezim orde baru
dan mendambakan alternatif yang lain --inilah yang disebut kekosongan,
kevakuman, ideologi yang harus diisi dengan segera oleh pergerakan;
3. Tingkat
mobilisasi, pengerahan, massa,
dalam tingkat tertentu, sudah tidak bisa dikendalikan oleh rezim orde
baru. Aksi massa, baik yang diorganisir maupun yang
tidak, mulai banyak dilancarkan oleh
berbagai sektor masyarakat;
4. Tingkat militansi
dan radikalisasi massa mulai
meningkat. Berbagai tindakan
penindasan oleh rezim orde baru terhadap pergerakan tidak dapat menghentikan gerak maju, peningkatan isi dan cara tuntutan massa;.
5. Pembentukan organisasi
massa
tandingan (alternatif), dalam tingkat tertentu, sudah dapat
dilaksanakan dan, dalam beberapa kasus, sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh
rezim orde baru;
6. unsur-unsur
maju di kalangan kaum pergerakan --baik yang sudah menyatakan diri maupun yang
masih bimbang-- merupakan mayoritas.
d. Polarisasi
yang keliru Dipandang Negatif
oleh Kaum Pergerakan Progresif Kerakyatan Radikal
Sesuatu yang
harus dipandang wajar --bukannya
dipandang negatif-- dalam gerak perjuangan pergerakan
progresif-kerakyatan-radikal adalah
polarisasi. Karena polarisasi adalah
konsekuensi logis ideologi, garis
politik, dan keorganisasian dari
pergerakan. Konsekuensi logis tersebut adalah polarisasi pergerakan menjadi berisi unsur maju dan unsur
konservatif/reaksioner. Dan kita harus
memadang unsur konservatif dan
reaksioner tersebut sebagai bukan
pergerakan, baik ideologinya, garis politiknya, dan keorganisasiannya. Apalagi
bila polarisasi tersebut bukan merupakan
hasil perbedaan, pertikaian politik
--perbedaan ideologis, strategi
dan taktik-- tapi hanya atas dasar intrik-ambisi pribadi borjuis kecil. Jadi,
mengapa harus menolak polarisasi,
menangisi polarisas, mengangisi
perpisahan dengan unsur yang kini
menjadi konservatif dan reaksioner. Biarkanlah yang menangis
ditinggalkan revolusi yang sedang maju, yang konservatif dan reaksioner harus kita isolasi.
e. Tugas Kita, Kaum Pergerakan
Progresif-Kerakyatan-Radikal
Tugas kita dalam merespon/menanggapi polarisasi
adalah memanfaatkan atau
memaksimalkan enam hal positif
seperti telah disebut di atas,
dengan jalan mengkonsolidasikan unsur-unsur maju dalam wadah organisasi yang
lebih solid. Tujuannya jelas:
mengisolasi unsur-unsur konservatif dan reaksioner, serta meningkatkan
kembali semangat unsur-unsur maju yang
masih bimbang dan sedang menangisi polarisasi.
Atau dengan kata lain:
itulah apa yang dinamakan propaganda, cara memetik buah
ranum sejarah pergerakan Progresif-kerakyatan-Radikal.
Kita tidak membutuhkan unsur-unsur
konservatif dan reaksioner. Kondisi
objektif sejarah kita yang lalu
telah membuktikan bahwa ruang
demokrasi (lihat enam segi positif di atas) telah dan hanya
berhasil dibuka --walaupun masih terbatas-- oleh unsur-unsur
radikal-militan-pelopor. Bukti sejarah --lihat lagi enam segi positif di atas--
tidak bisa diingkari. Bahkan
sekarang pun kita masih belum
membutuhkan unsur-unsur
moderat; Sekarang, tanpa
unsur-unsur Radikal-Militan-Pelopor,
kotak pandora pergerakan
Rakyat-revolusioner sama sekali tidak akan bisa dibuka.
C.
Pergerakan Mahasiswa dalam perpektif sejarah
GERAKAN MAHASISWA
mulai memainkan peranan dalam sejarah sosial sejak berdirinya universitas di
Bologna, Paris dan Oxford pada abad Ke-12 dan abad Ke-13. Semboyan mereka saat
itu ialah Gaudeamus Igtiur, Juvenes Dum Sumus, artinya: "Kita
bergembira, selagi kita muda.".
Sebenarnya sebuah jargon yang cukup lucu ketika ungkapan seperti di atas keluar
dari seseorang yang berstatus sebagai seorang pemikir yang semestinya menjadi
sebuah contoh, bagi masyarakat tentang bagaimana seharusnya seseorang berpikir,
pun tidak dipungkiri mahasiswa adalah seorang pembaharu yang membawa perubahan
pada sebuah bangsa. Pada saat berjuang biasanya mahasiswa mengusung kata
“idealisme” sebagai poros perjuangannya. Mahasiswa tidak mampu menjadi agen
perubahan dengan hanya berbekalkan idealisme dan semangat semata-mata tanpa
kesadaran serta usaha-usaha untuk menguasai ilmu dan kemahiran yang dapat
direalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Perjuangan golongan terpelajar untuk melakukan perubahan secara
berkesinambungan memerlukan kekuatan yang boleh diterjemahkan dalam bentuk
penguasaan ilmu dan usaha-usaha melahirkan cerdik pandai di kalangan sendiri,
dengan kata lain idealisme adalah sebuah pengejawantahan dari kematangan proses
berpikir, dan tanggung jawab implementasinya di masyarakat.
Immanuel
Kant, pernah berkata bahwa sejarah
bukanlah sesuatu yang terjadi, tapi sejarah adalah sesuatu yang terjadi dan
memiliki arti. Maka dalam sejarah, gerakan mahasiswa telah menggoreskan tinta
emasnya sebagai avant garde dalam setiap perubahan yang terjadi dalam tubuh
bangsa ini. Topik mengenai gerakan mahasiswa seolah tak pernah habisnya untuk
terus dikaji, begitu fenomenalnya gerakan mahasiswa sehingga diberikan label
yang prestisius sebagai agent of change, agent of control
dan berbagai label lainnya.
TAK berlebihan jika mahasiswa
diidentikkan dengan berbagai label, di antaranya sebagai agent of change, iron stock, dan label-label lain yang
kadangkala menuntut pertanggungjawaban kepada masyarakat dalam arti luas.
Mahasiswa sebagai bagian masyarakat terdidik mesti merespons apa sebenarnya
yang sedang terjadi hangat di masyarakat.
Jika kita meneropong dengan kacamata
sejarah, mahasiswa memang mempunyai romantisme sejarah yang kuat. Dan hal itu
bisa menjadi sumber energi dan juga bisa menjadi beban. Pada setiap zamannya,
mahasiswa mempunyai peran yang tidak bisa dianggap remeh.
Sejarah telah membuktikan hal itu.
Tengoklah misalnya pergerakan nasional tahun 1928 yang menghasilkan Sumpah
Pemuda, semuanya tidak terlepas dari tokoh-tokoh seperti Muhammad Yamin,
Sugondo Joyopuspito, dan mahasiswa-mahasiswa Indonesia lain yang sedang
menuntut ilmu di GHS (Geeneskundige Hogere School) maupun di RHS (Recht
Hogere School) yang sekarang melebur dan menjadi bagian Universitas
Indonesia.
Begitu pun pada pergerakan tahun
1945 dan 1966, mahasiswa kembali menorehkan tinta sejarahnya yang masing-masing
menghasilkan kemerdekaan Indonesia dan munculnya Orde Baru. Yang paling akhir
adalah reformasi 1998 yang berhasil menjatuhkan rezim despotik Orde Baru yang
telah "manggung" selama 32 tahun.
Untaian sejarah mahasiswa pada
zamannya itu memberikan indikasi bahwa mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang
lebih jika dibandingkan dengan elemen masyarakat lain. Dan itu membutuhkan satu
kesadaran. Kesadaran yang tumbuh dari setiap mahasiswa bahwa ia tidak saja
mesti menyelesaikan tugas-tugas akademik di kampus, namun juga mesti mampu menyelesaikan
problem-problem sosial kemasyarakatan yang ternyata jauh lebih rumit ketimbang
belajar teorinya dan baca buku di dalam kelas. Keseimbangan dua aspek tadi
yakni teori dan praktik setidaknya akan membentuk pemahaman yang utuh. Teori
saja tanpa praktik adalah omong kosong, dan praktik tanpa teori dikhawatirkan
akan caos.
Mahasiswa bisa diibaratkan adalah
sosok intelektual muda yang nantinya diharapkan bisa menjadi cendekiawan. Tentu
tidak mudah menapaki jalan hidup ke sana, penuh liku dan jalan terjal yang
mesti dilalui. Karena menjadi seorang cendekiawan yang konsisten kadangkala
mesti berseberangan dengan penguasa yang bisa jadi jalan yang dipilihnya itu
menyeret pada pengapnya "hotel prodeo" alias penjara.
Lagi-lagi kita mesti membuka
lembaran sejarah mengenai hal ini. Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka,
Natsir, Hamka, dan yang lainnya adalah sederet cendekiawan yang pernah
merasakan dinginnya tembok penjara karena tetap meneriakkan kebenaran ketika
semua orang tiarap. Inilah risiko yang mesti ditanggung. Seorang cendekiawan
yang lurus bisa dipastikan akan lebih banyak menemui badai ketimbang damai.
Seperti yang pernah ditulis oleh
Julien Benda, seorang cendekiawan Prancis dalam bukunya yang cukup terkenal
"La trahison des clercs" (1927) yang telah diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia menjadi "Pengkhianatan Kaum Cendekiawan" (hlm.
28-32) mengatakan bahwa cendekiawan tidak boleh terikat oleh sekat-sekat
budaya, ras, bahasa, bangsa, dan geografi.
Ia harus merasa sebagai unit
komunitas global sejati. Dalam perang sekalipun, ia tidak harus membela dan
berpihak pada bangsanya. Ia selalu berpihak pada kebenaran, keadilan, dan
kemanusiaan. Adagium right or wrong is my country, tidak ada dalam kamus
mereka.
Berbeda dengan sosok cendekiawan,
menurut Benda, semua jenis aktivitas politik merupakan rezim militerisme dan
jiwa kolektif dari realisme, materalisme, praktikalisme, dan aktivisme. Oleh
karena itu cendekiawan tidak boleh terlibat dalam politik, militer dan
diplomasi. Memasuki dunia itu berarti minimal terlibat-menyebarkan kebencian
terhadap ras lain, faksi politik, dan sangat bangga dengan nasionalisme.
Benda mencatat
cendekiawan seperti Mommsen, Treitschke, Ostwald, Brunetiere, Barres, Lemaitre,
Peguy, Maurras, d'Annuzio, dan Kipling yang cenderung praktis, haus dengan
hasil yang sementara, semata-mata memikirkan tujuan dan bukan proses, masa
bodoh dengan argumentasi, overacting, suka menyebar kebencian dan
mempunyai obsesi sebagai cendekiawan yang akrab dengan dunia politik, militer,
dan diplomasi.
Benda memuji-muji cendekiawan
seperti Gerson, Spinoza, Zola, Duclaux, da Vinci, Malebranche, Goethe, Erasmus,
Kant, Renan, dan sebagainya yang selalu mengecam pertikaian antara egoisme dan
arogansi manusia. Dengan demikian bahwa spirit dari seorang cendekiawan adalah
menyuarakan kebenaran yang berpihak pada masyarakat bukan menjadi corong para
penguasa. Persis ketika seorang Milan Kundera berseru bahwa perjuangan melawan
kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.
Dengan itulah kemudian sesungguhnya
seorang mahasiswa mengemban tugas seorang intelektual yang sungguh berat.
Apalagi jika kita tahu bahwa biaya pendidikan kita (baca:mahasiswa) sebagian
ditanggung oleh dana yang diserap dari masyarakat. Fenomena hari ini
menjelaskan bahwa dari tahun ke tahun rasa kepedulian mahasiswa terhadap
masyarakat agaknya mengalami penurunan yang cukup berarti, mereka telah
dininabobokan oleh budaya hedonisme dan terjerat ke dalam kubangan kapitalisme.
Dua budaya ini lamat-lamat memasuki relung kehidupan kita tanpa sadar.
Sederhana saja jika kita ingin
melihat fenomena ini. Cobalah bandingkan lebih banyak mana mahasiswa yang
mengidap --meminjam istilah teman saya-- sindrom lingkaran setan yakni kosan,
kuliah, nongkrong, dan begitu seterusnya tanpa memiliki variasi kegiatan yang
cukup bermakna dengan sebagian mahasiswa yang berkecimpung di unit-unit
kegiatan mahasiswa di intra maupun di ekstra kampus.
Tentu kita akan lebih banyak
menyaksikan yang pertama ketimbang yang kedua. Persoalannya tentu tidak
sederhana. Mereka dikirim orang tua untuk menuntut ilmu memang iya, namun yang
mesti harus kita sadari bahwa menjadi mahasiswa adalah sebuah pilihan, dan
memilih sesuatu akan meniscayakan sebuah konsekuensi yang mesti ditanggung oleh
setiap personal.
Oleh karena itu sesungguhnya di
samping keheroikan label mahasiswa yang begitu "gagah" di depan
masyarakat, juga menuntut pembuktian atas hal itu. Jangan heran jika ada
sebagian masyarakat yang menganggap bahwa mahasiswa itu bagai malaikat yang
mampu menyelesaikan apa pun, apalagi jika pergi ke daerah pedesaan yang sumber
daya manusianya masih kurang.
Merevolusi kesadaran. Itulah
sebenarnya yang mesti kita benahi jika masih meyakini bahwa merekonstrusi
perubahan ke arah yang lebih progresif adalah bagian dari salah satu tugas intelektual
mahasiswa. Kapan lagi kita bisa memunculkan Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib yang
"baru"?
Secara umum kita memahami gerakan mahasiswa sebagai
komunitas sosial yang menjalankan aktivitas dengan usaha untuk memainkan
perannya dalam proses politik, terlepas dari skala dan metode pengerahan massa
yang dilakukannya. Terlepas dari keberhasilan ataupun kegagalan yang dilakukan
dalam menciptakan perubahan, gerakan mahasiswa memiliki posisi yang strategis
dalam mempengaruhi proses politik.
Kondisi pemerintahan pasca reformasi belum juga memberikan perubahan yang
signifikan kearah yang lebih baik. Kecenderungan untuk kembali merajalelanya
pola-pola orde baru terlihat dengan jelas, salah satu indikasinya adalah
semakin tingginya tingkat korupsi di negeri kita, berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh PERC, yang diakibatkan lemahnya sistem hukum dinegara kita.
Fungsi kontrol yang dijalankan oleh legislatif terkesan jauh dari hakekatnya
sebagai pembawa aspirasi rakyat, justru yang lebih menonjol adalah pembawa aspirasi
golongannya.
Gerakan
Mahasiswa Tahun 1966
Dikenal dengan istilah angkatan 66, gerakan ini awal
kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, dimana sebelumnya
gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan. Tokoh-tokoh mahasiswa saat
itu adalah mereka yang sekarang berada pada lingkar kekuasaan dan pernah pada
lingkar kekuasaan, siapa yang tak kenal dengan Akbar Tanjung dan Cosmas Batubara. Apalagi Sebut saja Akbar
Tanjung yang pernah menjabat sebagai Ketua DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) periode
tahun 1999-2004.
Angkatan 66 mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten
Negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung
mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia).
Eksekutif pun beralih dan berpihak kepada rakayat, yaitu dengan dikeluarkannya
SUPERSEMAR (surat perintah sebelas maret) dari Presiden Sukarno kepada penerima
mandat Suharto. Peralihan ini menandai
berakhirnya ORLA (orde lama) dan berpindah kepada ORBA (orde baru). Angkatan 66
pun mendapat hadiah yaitu dengan banyaknya aktivis 66 yang duduk dalam kabibet
pemerintahan ORBA.
Gerakan
Mahasiswa Tahun 1972
Gerakan ini dikenal dengan terjadinya peristiwa MALARI
(Malapetaka Lima Belas Januari). Tahun angkatan gerakan ini menolak produk
Jepang dan sinisme terhadap warga
keturunan. Dan Jakarta masih menjadi barometer pergerakan mahasiswa nasional,
catat saja tokoh mahasiswa yang mencuat pada gerakan mahasiswa ini seperti
Hariman Siregar, sedangkan mahasiswa yang gugur dari peristiwa ini adalah Arif
Rahman Hakim.
Gerakan
Mahasiswa Tahun 1980 an
Gerakan pada era ini tidak popular, karena lebih terfokus
pada perguruan tinggi besar saja. Puncaknya tahun 1985 ketika Mendagri (Menteri
Dalam Negeri) Saat itu Rudini berkunjung ke ITB. Kedatangan Mendagri disambut
dengan Demo Mahasiswa dan terjadi peristiwa pelemparan terhadap Mendagri.
Buntutnya Pelaku pelemparan yaitu Jumhur Hidayat terkena sanksi DO (Droup Out)
oleh pihak ITB (pada pemilu 2004 beliau menjabat sebagai Sekjen Partai Serikat
Indonesia / PSI).
Gerakan
Mahasiswa Tahun 1990 an
Isu yang diangkat pada Gerakan era ini sudah mengkerucut,
yaitu penolakan diberlakukannya terhadap NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus
/ Badan Kordinasi Kampus) yang membekukan Dewan Mahasiswa (DEMA/DM) dan Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Pemberlakuan NKK/BKK mengubah format organisasi
kemahsiswaan dengan melarang Mahasiswa terjun ke dalam politik praktis, yaitu
dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0457/0/1990 tentang Pola
Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi, dimana Organisasi
Kemahasiswaan pada tingkat Perguruan Tinggi bernama SMPT (senat mahasiswa
perguruan tinggi).
Organisasi kemahasiswaan seperti ini menjadikan aktivis
mahasiswa dalam posisi mandul, karena pihak rektorat yang notabane nya
perpanjangan pemerintah (penguasa) lebih leluasa dan dilegalkan untuk mencekal
aktivis mahasiswa yang berbuat “over”, bahkan tidak segan-segan untuk
men-DO-kan. Mahasiswa hanya dituntut kuliah dan kuliah tok.
Di kampus intel-intel berkeliaran, pergerakan mahasiswa
dimata-matai. Maka jangan heran jika misalnya hari ini menyusun strategi demo,
besoknya aparat sudah siap siaga. Karena
banyak intel berkedok mahasiswa.
Pemerintah Orde Baru pun menggaungkan opini adanya
pergerakan sekelompok orang yang berkeliaran di masyarakat dan mahasiswa dengan
sebutan OTB (organisasi tanpa bentuk). Masyarakat pun termakan dengan opini ini
karena OTB ini identik dengan gerakan komunis.
Pemahaman ini penulis dapatkan ketika mengikuti ORPADNAS
(orientasi kewaspadaan nasional) tingkat DKI Jakarta yang diikuti oleh seluruh
Perguruan Tinggi di Jakarta pada tahun 1993. dan juga sebagai peserta pada
kegiatan TARPADNAS (penataran kewaspadaan nasional) tingkat nasional yang
diikuti oleh unsur pemuda dan mahasiswa seluruh Indonesia tahun 1994..
Pemberlakuan NKK/BKK maupun opini OTB ataupun cara-cara
lain yang dihadapkan menurut versi penguasa ORBA, tidak membuat mahasiswa putus
asa, karena disetiap event nasional dijadikan untuk menyampaikan penolakan dan pencabutan SK
tentang pemberlakukan NKK/BKK, termasuk juga pada kegiatan TARPADNAS.
Sikap kritis mahasiswa terhadap pemerintah tidak berhenti
pada diberlakukannya NKK/BKK, jalur perjuangan lain ditempuh oleh para aktivis
mahasiswa dengan memakai kendaraan lain untuk menghindari sikap refresif
Pemerintah, yaitu dengan meleburkan diri dan aktif di Organisasi kemahasiswaan
ekstra kampus seperti HMI (himpunan mahasiswa islam), PMII (pergerakan
mahasiswa islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PMKRI
(Pergerakan Mahasiswa Kristen Indoenesia) atau yang lebih dikenal dengan
kelompok Cipayung. Ini juga dialami
penulis yang menemukan titik kejenuhan
jika hanya bergulat dengan ORMAWA intra kampus, karena mahasiswa menjadi
kurang peka terhadap lingkungan sekitar, apalagi predikat mahasiswa adalah
sebagai agent of intelegence, agent of change, agent of social control, yaitu
mahasiswa sebagai seorang kaum terdidik, sebagai pembaharu dan sebagai kontrol
sosial.
Gerakan
Mahasiswa Tahun 1998
Gerakan mahasiswa era sembilan puluhan mencuat dengan
tumbangnya Orde Baru dengan ditandai lengsernya Soeharto dari kursi
kepresidenan, tepatnya pada tanggal 12 mei 1998.
Gerakan mahasiswa
tahun sembilan puluhan mencapai klimaksnya pada tahun 1998, di diawali dengan
terjadi krisis moneter di pertengahan tahun 1997. harga-harga kebutuhan
melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Mahasiswa pun mulai gerah
dengan penguasa ORBA, tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional
gerakan mahasiswa. Ibarat gayung bersambut, gerakan mahasiswa dengan agenda
REFORMASI nya mendapat simpati dan dukungan yang luar biasa dari rakyat.
Mahasiswa menjadi tumpuan rakyat dalam mengubah kondisi yang ada, kondisi
dimana rakyat sudah bosan dengan pemerintahan yang terlalu lama 32 tahun !
politisi diluar kekuasaan pun menjadi tumpul karena terlalu kuatnya lingkar
kekuasaan, dan dikenal dengan sebutan jalur ABG (ABRI, Birokrat, dan Golkar).
Simbol Rumah
Rakyat yaitu Gedung DPR/MPR menjadi tujuan utama mahasiswa dari berbagai kota
di Indonesia, seluruh komponen mahasiswa dengan berbagai atribut almamater dan kelompok semuanya
tumpah ruah di Gedung Dewan ini, tercatat FKSMJ (Forum Komunikasi Senat
Mahasiswa Jakarta), FORBES (Forum Bersama), KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim
Indonesia) dan FORKOT (Forum Kota). Sungguh aneh dan luar biasa, elemen
mahasiswa yang berbeda paham dan aliran dapat bersatu dengan satu tujuan :
Turunkan Soeharto.
Dua elemen
mahasiswa yang mencuat adalah FKSMJ dan FORKOT. Penulis mengenal betul karakter
dua elemen mahasiswa ini. FKSMJ yang merupakan forumnya senat mahasiswa se
Jakarta, lebih intens melakukan koordinasi dan terkesan hati-hati dalam
menyikapi persolan yang muncul, dan lebih apik dalam beraksi karena menghindari
gerakan mata-mata intel. Sedangkan FORKOT yang terdiri dari kelompok aktivis
mahasiswa Pers Kampus lebih “radikal” dalam beraksi dan berani menentang arus,
sehingga tak jarang harus berhadapan langsung dengan aparat, dan bentrok fisik
pun tak terelakan.
Perjuangan
mahasiswa menuntut lengsernya sang Presiden memang tercapai, tapi perjuangan
ini sangat mahal harganya karena harus dibayar dengan 4 nyawa mahasiswa Tri
Sakti, mereka gugur sebagai Pahlawan Reformasi, serta harus dibayar dengan
tragedi Semangi 1 dan 2. Memang lengser nya Soeharto seolah menjadi tujuan
utama pada gerakan mahasiswa sehingga ketika pemerintahan berganti, isu utama
kembali kepada kedaerahan masing-masing. FORKOT dan FKMSMJ pun kembali
bersebrangan tujuan.
REFORMASI terus bergulir, perjuangan
mahasiswa tidak akan pernah berhenti sampai disini. Perjuangan dari masa ke
masa akan tumbuh jika Penguasa tidak berpihak kepada rakyat.
D.
Karakteristik Mahasiswa
Tidak dapat
dipungkiri dalam kehidupan sehari-hari terdapat berbagai karakter mahasiswa,
yang “menghiasi” perannya dalam pergerakan mahasiswa itu sendiri.
-
Cenderung oportunis.
Jenis mahasiswa
seperti ini cenderung menggambarkan bahwa organisasi dan pergerakan mahasiswa
merupakan sebuah ladang bagi dirinya untuk meraih keuntungan. Entah itu
keuntungan materi, kekuasaan, atau pun status sosial.
-
Berpolitik praktis
Jenis mahasiswa ini
biasanya tergabung ke dalam satu partai, dan mencoba untuk menggalang kekuatan
masa untuk menduduki sebuah jabatan, atau untuk manggalang sebuah kekuatan
opini. Yang lucunya, untuk sebagian mahasiswa cenderung meng’kulktus’ kan
seorang tokoh , tanpa didasari oleh sebuah pemikiran-pemikiran kritis.
-
Bertaktik.
Jenis mahasiswa ini
biasanya menggunakan taktik-taktik tertentu untuk dapat membentuk opini orang
lain, untuk kemudian mencoba membentuk opini tersebut menjadi sebuah persepsi
yang benar, ada kalanya penggalangan kekuatan tidak hanya dilakukan dengan
menggunakan otak, tapi juga otot
-
Bersikap acuh tak acuh
Ada dua sebab
mengapa mahasiswa menjadi acuh tak acuh. Pertama, dikarenakan tidak adanya rasa
tanggung jawab dalam diri mahasiswa yang bersangkutan, dan mengidentikan bahwa
seorang mahasiswa itu hanya bertugas untuk “belajar. Kedua, dikarenakan
platform pergerakan mahasiwa yang tengah di usung tidak sesuai dengan
pemikirannya, atau pun cara dia berjuang, bisa jadi orang-orang seperti ini
mulai melihat bahwa organisasi mahasiwa yang bersangkutan berada pada jalur
yang salah.
-
Berlandasan
Jenis mahasiswa ini
biasanya memiliki pemahaman-pemahaman, dan pola berpikir yang matang, sehingga
segala sesuatu yang diperbuat atau di perjuangkannya memiliki sebuah landasan
yang real, dengan arti kata penolakan dan penerimaan didasarkan pada sebuah
proses berpikir yang matang dengan pertimbangan landasan-landasan itu tadi.
Mengapa mahasiwa ini bisa menjadi terkotak-kotak?, bisa jadi ada berbagai macam
persepsi yang berbeda tentang arti kata idelisme itu tadi. Sekarang apa yang
dimaksud dengan idealisme, sekarang mari kita ungkap lebih jauh.
-
Idealis
Idealisme adalah
sesuatu yang ideal, dengan kata lain menempatkan sesuatu pada tempatnya,bisa
juga dikatakan serasi atau selaras. Sebagai contoh, seorang mahasiswa dikatakan
memiliki idealisme adalah ketika melakukan protes kepada seorang Dekan yang
membuat sebuah keputusan dengan tidak mengindahkan aturan, untuk kembali kepada
aturan yang sebenarnya, jadi idealisme disini adalah mencoba untuk
memperjuangkan sebuah aturan yang telah disepakati sebelumnya, contoh lainnya
adalah ketika seorang mahasiswa memperjuangkan kebutuhan orang-orang miskin,
yang hak-hak nya tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah. Jadi idealisme itu
timbul dikarenakan adanya sebuah pemikiran untuk menempatkan segala sesuatu
pada tempatnya atau dengan kata lain berbuat adil. Landasan Mahasiswa dalam
Pergerakan Mahasiswa. Secara garis besar ada dua andasan yang dipakai
oeleh mahasiswa untuk memperjuangkan idealisme itu tadi, yaitu Hukum positif
dan hukum Agama.
E. Mahasiswa Kehilangan fungsi
kontrol
Kondisi pemerintahan pasca reformasi belum juga memberikan
perubahan yang signifikan kearah yang lebih baik. Kecenderungan untuk kembali
merajalelanya pola-pola orde baru terlihat dengan jelas, salah satu indikasinya
adalah semakin tingginya tingkat korupsi di negeri kita, berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh PERC, yang diakibatkan lemahnya sistem hukum dinegara kita.
Fungsi kontrol yang dijalankan oleh legislatif terkesan jauh dari hakekatnya
sebagai pembawa aspirasi rakyat, justru yang lebih menonjol adalah pembawa
aspirasi golongannya.
Kondisi legislatif teralienasi ini semakin diperparah dengan kurang
responsifnya partai-partai politik terhadap isu-isu publik untuk pemberdayaan
rakyat, pengentasan krisis, serta pencerdasan bangsa. Mereka lebih sibuk dengan
isu-isu berdimensi aliran, uang serta pembagian kekuasaan. Kondisi yang akut ini
menuntut gerakan mahasiswa untuk proaktif dalam mengkritisi kinerja
pemerintahan yang kontraproduktif.
Akan tetapi, justru gerakan mahasiswa seolah kehilangan arah gerakannya pasca
reformasi sehingga terpolarisasi kepada banyak kutub. Sebagian mahasiswa telah
terlena dalam euforia reformasi sehingga cenderung lebih sering berkutat dengan
bangku kuliahnya dibandingkan ikut dalam mempengaruhi proses politik bangsa
ini. Menurut Yozar Anwar, pada dasarnya gerakan mahasiswa merupakan gerakan
budaya, karena ia memiliki kemandirian dan berdampak politik yang sangat luas.
Oleh karena itu mereka tidak boleh cepat puas dengan hasil yang dicapai.
Gerakan mereka juga harus senantiasa menggunakan asas kebenaran politik dan
pengungkapan kebenaran publik sekaligus. Maka, budaya Indonesia yang cenderung
cepat puas dengan keadaan dan tidak peduli dengan perkembangan karena sibuk
sendirian, tidaklah patut menjadi paradigma gerakan mahasiswa.
Ada pula yang terkooptasi oleh kepentingan politik sesaat, ataupun berafiliasi kepada
partai yang sudah ada, sehingga pola gerakan dan isu yang dibangun sudah
tereduksi oleh kepentingan golongannya. Ini merupakan gejala kemunduruan
gerakan mahasiswa, karena stigma yang telah dikenakan kepada mahasiswa sebagai
gerakan yang independen dan mengedepankan kepentingan rakyat, bukan
golongannya. Ketidakpastian politik di negeri ini, pasca reformasi yang
digulirkan oleh gerakan mahasiswa, menggugah berbagai elemen bangsa untuk
kembali mempertanyakan eksistensi gerakan mahasiswa dalam perjalanan politik
bangsa ini. Gerakan mahasiswa dituntut untuk kembali melakukan perubahan
signifikan guna memperbaiki kerusakan yang terjadi di negeri ini.
Untuk itu dibutuhkan isu sentral yang dapat mempersatukan gerakan mahasiswa
yang berserak ini (meminjam Istilah Ignas Kleden). Gagasan tentang revolusi
sistemik cukup mendasar untuk dijadikan isu sentral arah baru gerakan mahasiswa
sekarang ini. Mengingat kondisi bangsa yang belum bisa terlepas dari pengaruh
kultur orde baru, maka kekuatan orde baru yang ada dalam sistem haruslah mundur
ataupun dimundurkan sehingga dapat digantikan dengan orang-orang baru yang
cenderung lebih bersih dari pengaruh dan kultur orde baru. Sejalan dengan
gagasan Prof. Deliar Noer, kalau menginginkan reformasi total, ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan, mengingat pengalaman masa lalu. Konsistensi diperlukan
dan pemerintahan dipegang oleh orang-orang yang tidak terlibat dalam masa
sebelumnya. Konsesi apapun tidak dapat dibenarkan untuk diberikan kepada
pemerintah, kecuali dalam rangka reformasi.
Revolusi sistemik yang dimaksud diatas adalah perubahan radikal (mendasar)
secara menyeluruh terhadap sistem lama yang sudah usang dan digantikan oleh
sistem baru yang akan memuat nilai-nilai baru yang lebih baik. Secara
struktural revolusi sistemik mengarah kepada perubahan sistem politik yang
merupakan kulminasi dari agenda reformasi. Sementara proses kultural adalah
tahapan antara yang menghantarkan kepada perubahan sistem politik. Proses
perubahan secara struktural dan kultural dilalui agar perubahan tidak hanya
terjadi pada level suprastruktur tapi juga infrastruktur. Sebuah tuntutan yang
harus digulirkan kepada gerakan mahasiswa, adalah bagaimana mengembalikan ruh
gerakan mahasiswa pada hakekatnya. Sebagai gerakan yang progresif, kritis dan
independen, dengan begitu maka akan terwujud terbangun tatanan demokrasi yang
kita idamkan.
F.
Keruntuhan Idealisme
2. Efek
Modernisasi
Harus diakui, arus modernisasi yang
berjalan kuat dan pesat, membuat dinamika kemahasiswaan berjalan sangat dinamis
dengan tingkat kebebasan berpikir yang sangat tinggi. Melalui disiplin keilmuan
yang diterimanya serta jaringan pergaulan dan informasi yang mampu diaksesnya,
menjadikan mahasiswa hidup dalam dunia kebebasan yang sangat lebar. Modernisasi
telah benar-benar menggeser dan meruntuhkan segala pranata yang sudah mapan,
termasuk pranata moral keagamaan dan sosial.
Seorang ilmuan muslim Mesir kenamaan
Hassan Hanafi, mensinyalir bahwa modernisasi mampu menyuguhkan sejuta opsi
dalam satu hal kecil yang sangat terbatas sekalipun. Di sana tersedia sejumlah
standar dan ukuran-ukuran. Siapa pun bebas menggunakan ukuran dan standar
tersebut, bahkan juga berganti-ganti dari satu standar ke standar yang lain.
Kebebasan menggunakan standar inilah yang kemudian meruntuhkan segala bangunan
pranata sosial-keagamaan yang sudah mapan.
Lihatlah bagaimana generasi muda
kampus melakukan seks bebas, obat-obatan terlarang, dan larut dalam
tuntutan-tuntutan gaya hidup modern lainnya. Padahal, tidak sedikit dari mereka
yang berlatarbelakang masyarakat desa dengan kultur yang sangat bertolak
belakang. Alfin Tofler menyebut gejala ini dengan cultural shock, sebuah
keterkejutan budaya yang tanpa disadari menyeretnya ke dalam arus kebudayaan
baru yang tidak dikenal sebelumnya.
Modernisasi memang benar-benar
menjadi satu persoalan tersendiri dalam kultur masyarakat praindustri, seperti
Indonesia. Di dalamnya terjadi aneka kontradiksi yang berjalan dalam satu irama
perubahan pada dimensi kultural dan kesadaran manusia. Dalam jeratan kultur
seperti inilah, lanjut Hassan Hanafi, setiap orang berkecenderungan kembali
kepada nilai-nilai primordialnya atau membangun mekanisme defensif dengan
mengusung sebuah nilai-nilai fundamental yang sangat asasi. Biasanya,
alternatif pengimbang terhadap modernisasi dipilihlah nilai-nilai keagamaan.
Tesis yang diajukan oleh Hanafi
adalah semakin deras arus modernisasi mengguncang sendi-sendi kultural sebuah
masyarakat, maka kecenderungan untuk kembali kepada nilai-nilai primordialnya
juga semakin kuat. Ini yang ditemukan Hanafi tentang perkembangan
fundamentalisme kristen di zaman pencerahan Eropa, atau munculnya gerakan Islam
puritan di negara-negara Islam Timur Tengah, termasuk berkembangnya gerakan
Islam radikal di Pakistan, Mesir dan Turki, khususnya di zaman Kemal Attaturk.
Tampaknya, sinyalemen Hanafi tidak
terlalu berlebihan untuk digunakan dalam meneropong fenomena perkembangan
menguatnya gerakan Islam di berbagai kampus umum di Indonesia. Setidaknya, ada
dua indikasi yang menguatkannya.
Pertama, gerakan Islam kampus ini
berkembang di kota-kota besar dengan tingkat modernisasi yang cukup tinggi.
Sebaliknya, di kota-kota yang derajat modernisasinya sangat kecil, kehadiran
mereka sulit untuk diterima. Artinya, fenomena itu menjadi kekhasan masyarakat
perkotaan.
Kedua, sebagai bentuk
kecenderungannya yang sangat kuat terhadap ornamen-ornamen keagamaan (Islam),
nuansa puritanismenya ditonjolkan jauh lebih kental sehingga kontras dengan
khazanah-khazanah lokal. Ini menjadi ciri yang paling tampak dari gerakan-gerakan
Islam puritan. Biasanya mereka kesulitan membangun titik konvergensi antara
tuntutan formalisme keagamaan dengan realitas aktual kebudayaan lokal yang
sedang berkembang.
Mengapa modernisme, pada dimensinya
yang lain, mendorong orang untuk kembali kepada nilai-nilai fundamental atau
primordialismenya? Seorang ilmuan Donald Smith menengarai ada tiga sebab.
Pertama, modernisme dapat
menyebabkan pemisahan politik dari ideologi-ideologi agama dan struktur
eklesiastikal. Modernisme dapat menyebabkan ruang sosial pecah, tanpa terhubung
antara satu dengan yang lain. Misalnya politik terpisah dari agama, ekonomi
dijauhkan dari prinsip-prinsip keadilan dan lain sebagainya.
Kedua, ekspansi politik merambah ke
dalam semua segmen sosial dalam menjalankan semua fungsinya, sehingga agama
kehilangan peran sosialnya.
Ketiga, terjadi transvaluasi kultur
politik yang lebih mengutamakan pentingnya nilai-nilai yang rasional,
pragmatis, profan dan non-transendental. Ketiga hal ini, lanjut Smith terjadi
secara universal di semua lapisan masyarakat modern.
3. Agenda yang
Belum Tuntas
Begitu kuatnya pengaruh modernisme
yang mampu meruntuhkan segala bangunan sistem nilai, termasuk nilai-nilai
agama, maka dalam dunia Islam timbul polemik yang cukup serius, apakah
modernisme sesuai dengan agama atau malah bertolak belakang.
Kelompok yang memahaminya bertolak
belakang dari doktrin agama mengambil sikap resistensi dan konfrontasi,
sehingga disebut sebagai kelompok fundamentalis. Ini muncul di beberapa negara
seperti Iran, Sudan dan lain-lain. Mereka membangun sebuah antitesa dengan
menampilkan Islam sebagai kekuatan tandingan. Di sini kesadaran keagamaan tidak
semata-mata dipahami sebagai cara dan pola hidup, tetapi juga dipahami
alternatif sistem yang harus diperlawankan dengan sistem mana pun juga.
Sementara kelompok yang menyetujui
modernitas mengambil sikap afirmatif-kompromistik dan menganggapnya sebagai
bagian dari dimensi doktrinal keagamaan. Sederhananya, menurut kelompok ini,
bukankah agama sendiri menganjurkan kemajuan.
Bagaimana sebetulnya pengaruh
modernitas terhadap bangunan keagamaan?
Seorang cendekiawan muslim Indonesia
Prof Dr Nurcholish Madjid mengatakan bahwa esensi modernisasi sebenarnya adalah
rasionalisasi. Sebuah upaya penempatan formula-formula teologis kedalam bingkai
ilmiah-teoritis. Dengan demikian, dalam konteks keagamaan, modernisme
diperlawankan dengan dogmatisme. Karena dogmatisme sudah pasti irrasional.
Itulah sebabnya, mengapa sang cendekiawan selalu mengkampanyekan keharusan
modernisasi terhadap bangunan keagamaan sejak tahun 70-an.
Tetapi rasionalisasi terhadap segala
bangunan keagamaan, terutama pada anasir teo-ritualistiknya, mengakibatkan
hilangnya dimensi spiritualitas agama yang menyebabkan perilaku dan praktik
keagamaan itu sendiri menjadi kering dan gersang.
G. Kesimpulan
Dari perjalanan gerakan mahasiswa dari masa ke masa ada persamaan ciri
dari gerakan mahasiswa angkatan 98 dengan gerakan mahasiswa angkatan lainnya,
yaitu :
• Sebagai Motor penggerak
Pembaharuan
• Kepedulian dan Keberpihakan
terhadap rakyat
Sedangkan perbedaan yang mencolok adalah, penyikapan isu yang tidak
sentral lagi, karena REFORMASI TOTAL belum tuntas dan aktivis angkatan 98 sudah
melepas statusnya sebagai mahasiswa, serta mereka sudah tidak seidealis lagi ketika
waktu masih menjadi mahasiswa di dalam menyikapi persolan bangsa, mereka
sekarang sudah terjun kedalam dunia politik praktis dan tersebar di banyak
partai pemilu 2004. Dulu mereka menggugat ORBA, tapi sekarang duduk dan
bergabung dalam lingkaran ORBA. Inilah suatu realita perpolitikan di Indonesia.
Mungkin juga anda yang sekarang sebagai aktivis akan seperti mereka, menjadi
seorang Opurtunis ? hanya anda sendiri yang akan menentukan langkah
selanjutnya.
Karakter yang menarik dari semua aktivis gerakan mahasiswa adalah mereka
yang memenuhi persyaratan :
1.
Mempunyai prestasi akademik yang baik (IPK diatas
rata-rata).
2.
Basic organisasi yang kuat, karena mengalami
pengkaderan yang berjenjang dari tingkatannya, bukan aktivis instant yang hanya
mengejar popularitas sesaat.
3.
Santun dalam bertingkah cerdas dalam berfikir (ahlakul
kharimah), dan menjadi panutan mahasiswa lainnya.
4.
Mampu me-manage (mengatur) waktu, bukan waktu yang
mengaturnya.
5.
Mampu menuangkan pokok pikiran dan ide-ide nya kedalam
tulisan. Gerakan penyadaran tidak hanya dalam bentuk aksi jalanan melainkan
dalam bentuk tulisan juga.
Jika anda sebagai mahasiswa mempunyai semua kriteria seperti diatas,
maka anda layak menyandang predikat sebagai aktivis mahasiswa sejati. Jika
belum, maka baiknya Penulis sarankan anda banyak belajar, belajar dan belajar.
H. Daftar Pustaka
Aminullah
YunusMemahami Kebangkitan Gerakan Islam Kampus,
http://www.suaramerdeka.com/harian/0410/08/opi4.h
Asep
Imaduddin A.R, Merevolusi Kesadaran Mahasiswa Indonesia, Pikiran Rakyat, Kamis, 30 September 2004
Hovland, Carl I., 1953,
Social Communication, dalam Bernard Berelson & Morris Janowitz, ed., Reader
in Public Opinion and Communication, New York: The Free Press of Glencoe
Madjid, (1992) Sejarah
Memberikan Kesimpulan, Pergerakan Yang Merevolusionerkannya Dikutip dari
majalah PROGRES No. 3, Jilid 2, 1992 hal. 59
Mohammad Ilham B; Di Balik Fenomena Gerakan Mahasiswa;
Mon, Oct 04, 04 | 3:23 pm
Portal Berita
Perpustakaan UPI, Mahasiswa, Idealisme Dan Salah Kaprah; Posted on
Wednesday, October 06 @ 13:27:20 WIT by riki
Rakhmat, Jalaludin, 1991,
Psikologi Komunikasi, Bandung : PT Remaja Rosdakarya
SUDARMA, (2005).
Gerakan mahasiswa dari masa ke masa (sebuah refleksi terhadap gerakan mahasiswa
era Reformasi & mengenang 7
Tahun Gerakan Mahasiswa 98)
Tulisan dari :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar